
Play/Download
Perkenalkan, namaku Aditya (nama samaran) seorang pemuda Chinese dengan
tinggi badan 170 dan berat 60 dan postur tubuh yang cukup atletis karena
aku rajin fitness. Aku sudah mengenal situs Rumah Seks sejak lama dan
suka sekali membaca cerita di dalamnya. Kali ini aku mencoba
menceritakan pengalaman pertamaku bersama pacarku Jenny (juga nama
samaran) yang kini menjadi telah menjadi istriku dan begitu mengesankan
bagiku.
*****
Cerita bermula saat aku dan pacarku pergi
berlibur berdua saja ke kota wisata P, Kota sekitar Danau T-Sumatera
Utara, siangnya sehabis pulang kerja, kamipun berangkat ikut dengan
rombongan salah satu travel di kotaku M, tidak banyak yang terjadi di
perjalanan selain hanya kami terlelap di tempat duduk kami
masing-masing, sedangkan Jenny terlelap dengan kepala bersandar
dibahaku.
Sekitar 3 jam perjalanan kami pun sampai ke kota P, dan
langsung menuju salah satu hotel disana untuk check-in, setelah kami
check-in disalah satu kamar hotel, akupun langsung menghempaskan tubuhku
berbaring di tempat tidur yang empuk tersebut. Sedangkan Jenny masih
sibuk membenahi barang barang yang kami bawa (biasalah kalo lagi
berlibur, paling ya.. pakaian semua). Melihat dia sibuk berbenah timbul
keisenganku untuk menggodanya dari belakang, akupun kemudian bangun dari
tempat tidur dan berjalan perlahan kearahnya yang kemudian kupeluk dia
dari belakang.
"Lagi sibuk ya sayang..?" sekedar basa basi sambil memeluknya.
"Aduh.. udah dong say.. jangan begini dulu, bukannya ngebantu malah nambah beban dibelakang aja." ketusnya.
"Nggak
pa pa kan, yang pentingkan kamu enakan juga" jawabku sekenanya aja
sambil mulai menggerayangi pantatnya yang padat itu. (postur tubuh
pacarku ini juga ideal, tinggi 165, berat 50, bra 34A, kulit putih
bersih bagai susu)
"Ye.. maunya tuh.." jawabnya sambil menepis tanganku yang sedang berada di pantatnya.
Sebelumnya perlu diinformasikan kalau kami sudah sering bercinta, tapi hanya sampai sebatas peting saja.
"Ya udah deh, kalo nggak mau.." jawabku pura-pura surut, sambil kembali duduk di atas tempat tidur.
Aku
kemudian mengambil minuman yang terdapat di mini bar kamar dan langsung
menuangkannya kedalam gelas, selesai berbenah Jenny kemudian duduk di
sampingku.
"Sini minumnya! Aku juga haus nih.." katanya sambil meraih gelas di tanganku.
"Eh..eh..eh..
tunggu dulu, kalau ambil sendiri sana, atau minum langsung dari mulutku
ini" ledekku sambil memuncungkan bibirku ke arah bibirnya..
"Ih..
kok nggak sabaran sih dari tadi" sambil kembali berusaha merebut gelas
di tanganku. akhirnya gelas itupun tumpah dan mengenai bajunya.
"Nah kan.. tumpah akhirnya, sini biar aku yang ngebersihin bajumu.." kataku sambil meraih baju kaos putihnya.
Dia kemudian menatapku tajam setengah marah karena bajunya telah kotor terkena tumpahan minuman tadi.
"Jenn,
sebenarnya Aku sangat memimpikan kesempatan seperti ini, hanya berdua
dengan kamu di kamar sebuah hotel" aku mulai mencairkan suasana saling
berebutan dari tadi.
"Kamu cantik Jenn, bahagia sekali aku
memilikimu, walaupun kita hanya dapat berdua jika pas ayah dan ibuku
beserta adik-adikku lagi nggak dirumah" kataku sambil memeluk erat
tubuhnya.
"Akupun begitu Dit, sudah lama kita tidak berdua seperti ini"
"Iya, akhir-akhir ini rumah selalu ramai"
"Akupun sudah rindu sekali ingin bercinta denganmu.." kataku sambil menggenggam kedua tangannya.
"Sekarang kamu rilex ya, sayang!" Jenny memejamkan matanya saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Dengan
lembut kukecup keningnya, kurasakan remasan halus menggenggam tanganku
yang masih memegang tangannya, lalu bibirku mulai berjalan mencium alis,
matanya yang terpejam, dan kedua pipinya danterakhir berhenti di kedua
belahan bibir mungil gadisku yang cantik ini. Jenny membalas kulumanku
pada bibirnya dengan pagutan yang hangat pula lalu aku mulai membuka
bibirku dan mengeluarkan lidahku mencari lidah yang lain diseberang
sana. Tanganku mulai merayap menggerayangi tubuhnya, perlahan menyusup
ke balik kaos ketat putih yang melekat ditubuhnya, kini kurasakan
halusnya kulit gadisku ini. Ketika tanganku mulai memasuki daerah dada
untuk segera merasakan lembutnya daging kenyal yang menonjol, mendadak
kedua tangan Anna menahan kedua tanganku.
"Kenapa.. sayang..?" terpaksa aku menghentikan sejenak aksiku dan kutatap wajah sayu di hadapanku dengan tajam.
"Pintunya
udah dikunci belum Dit.." tanyanya mengingatkan aku kalau pintu kamar
belum dikunci, akupun kemudian bergegas pergi mengunci pintu kamar
sambil tak lupa meletakkan gantungan yang bertuliskan "DO NOT DISTURB"
di pegangan depan pintu kamar.
"Buka ya, sayang!" Jenny mengangguk
pelan, lalu dengan sangat hati-hati kutarik ujung T-shirt yang melekat
di tubuh Jenny dan meloloskannya melalui kedua tangannya. Kulempar
t-shirt itu kelantai, kini dihadapanku terpampang tubuh padat yang
setengah telanjang dengan dada berisi dan terlindungi BH warna hitam
yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Sejenak kutatap
gumpalan daging yang masih tertutup BH itu, perlahan kurebahkan tubuhnya
ke atas tempat tidur. Kembali kucumbu pacarku ini yang sedang
terlentang pasrah, kukulum lagi bibir mungil itu lalu perlahan merayap
menuju leher, telinga, daerah dibelakang telinga, dan terus kebawah
menuju gumpalan payudara yang berisi itu. Kujulurkan lidahku mengitari
bukit itu sambil tanganku merayap menuju punggung tempat dimana kaitan
BH itu direkatkan, kutarik pelan BH itu dari tubuh Anna dan kulemparkan
ke lantai.
"Akh..!" Dia mendesah perlahan saat BHnya terlepas
dari tubuhnya dan berusaha menutup kedua bukit indahnya dengan kedua
tangannya sambil tersenyum menggodaku,
"Jangan sayang, Aku ingin melihat keindahan bukit ini.."
Segera
saja tanganku menahan kedua tangannya dan kubawa keatas kepalanya
sambil kusapukan lidahku yang basah kearah ketiaknya yang bersih dengan
aroma yang menggugah hasrat kelelakianku.
"Akh.. Eemhh." Jenny
merintih kecil sambil terpejam, tanganku merayap lagi menuju dada yang
kini terbuka, sentuhan melingkar menambah sensasi lain pada diri pacarku
dan akhirnya mulutku pun mendarat di belahan dada Pacarku ini.
"Oohh..
Dit.." desahnya perlahan, saat aku mulai mengusapkan lidahku di
payudaranya, sengaja aku tidak langsung ke putingnya yang kemerahan itu,
desahan demi desahan mengiringi sapuan lidahku di kedua payudara yang
masih kencang ini, payudara indah yang hanya mendapat sentuhan dariku.
Puting yang merah seakan tenggelam dan belum dapat muncul kepermukaan,
akhirnya kuhisap puting itu dengan penuh perasaan cinta agar Jenny dapat
menikmati setiap sentuhanku.
Sambil terus mengulum payudara itu
dengan cekatan aku menanggalkan pakaianku tanpa Jenny sadari, kini hanya
celana dalam saja yang melekat ditubuhku melindungi senjataku yang
sudah menegang dari tadi. Sekarang mulutku berada di atas pusar yang
dihiasi sebuah tato kupu-kupu membuatnya semakin indah, kujilat dan
terus merayap sambil tanganku mulai menarik rok yang di kenakannya.
Jenny membantunya dengan mengangkat pantatnya dan memudahkan aku
melepaskan penutup bagian bawah tubuhnya itu, kini aku dapat menikmati
paha mulus yang dihiasi bulu-bulu halus yang menantang untuk segera
disentuh.
"Kamu nikmatin aja ya sayang!" kubelai pipi pacarku ini
lalu kucium keningnya, Jenny menerimaku lagi dengan pagutan yang lebih
membara saat mendaratkan ciumanku di atas bibirnya.
Sambil terus
kujelajahi dengan bibir dan lidahku perlahan aku mulai kembali menarik
celana dalam itu, kali ini diapun mengangkat pantatnya dan terlepaslah
kain terkahir yang melekat ditubuhnya. Gundukan bukit kecil dengan
bulu-bulu halus yang tertata rapi menandakan pacarku ini sangat
memperhatikan daerah paling pribadinya ini, bibir vagina yang memerah
dengan sebuah daging kecil tersembul di atasnya kini terpampang begitu
dekat dihadapanku. Kutangkap tangannya yang berusaha menutupi benda
indah itu, lalu kusentuh dengan sangat pelan dan penuh kelembutan. Jenny
mulai menikmati permainan ini, tubuhnya meliuk-liuk mengeliat seperti
ulat menerima aksi dariku.
Dengan pelan kubuka kedua pahanya
dengan tanganku lalu kutempatkan wajahku mengisi selangkangan itu,
vagina itu begitu dekat dengan bibirku.
"Oohh.." dia mendesis
tangannya meremas rambutku yang berada diselangkangannya, ia begitu
menikmati sapuan lidahku yang mengisi ruang kosong di antara kedua
pahanya. Aroma vagina yang sangat kukenal ini membuatku semakin bernafsu
ingin memberikan yang terbaik bagi gadisku ini. Bulu-bulu halus
disekitar bukit vagina menggelitik hidung dan bibirku, kucari dan
kutemukan daging kecil pusat segala kenikmatan bagi dia. Vagina itu
begitu mungil dan indah dengan cairan hangat yang mulai keluar dari
dalam rahimnya dan bercampur dengan air liurku. Jenny mendesah dan
menggeliat merasakan sesuatu yang luar biasa yang rasakan dari sentuhan
lidahku pada vaginanya.
"Hoh.. Hoh..Dit.. Aku nggak tahan.. neh
udah dong..!" mulutnya terus meracau. Tiba-tiba saja dia mencengkram
erat rambutku dan membenamkan kepalaku lebih dalam ke selangkangannya,
pantatnya mendongak keatas dan tubuhnya menegang. Sesaat kemudian
kurasakan cairan hangat kembali keluar dari vaginanya dan kali ini lebih
banyak dari sebelumnya.
"Akhh.. eehhmm.." aku tahu dia telah
mencapai orgamenya yang pertama, dan aku terus saja menekan klitoris itu
dengan lidahku, kulumat setiap tetesan cairan hangat yang keluar dari
liang vagina itu. Cengkeramannya melemah dan akhirnya dia terkulai lemas
dengan nafas yang memburu, kulihat dada yang turun naik mengatur nafas
dengan terengah. Kudekap erat tubuhnya dan kembali kukecup kening
gadisku ini,
"Hh.. makasih ya Dit.. tadi nikmat sekali.."
Beberapa
saat lamanya kudekap tubuh polos itu sambil terus tanganku memainkan
puting susu yang mulai menegang kembali, senjataku sangat tegang. Kalau
saja aku tidak ingat peringatannya supaya tetap virgin sampai malam
pertama kali kelak mungkin penisku sudah menyeruak masuk kedalam vagina
sempit itu, tapi aku bersabar karena pada saatnya nanti aku pasti
mendapatkannya. Kubalikan tubuh Anna, sekarang tubuhnya menindih dan
tengkurap diatas tubuhku, ia masih begitu lemas merasakan sisa
kenikmatan yang baru saja ia alami. Ia tersenyum saat sesuatu yang
tegang mengganjal tepat diperutnya, digenggamnya dengan penuh nafsu.
"Dit..
sudah tegang banget ini.." dia kemudian bergerak menaiki dadaku,
kemudian menggesek gesekkan kemaluannya di dadaku. SSetelah itu turun
kembali dan bibir langsung melahap 2 titik kecil di dadaku.
"Mmhhmm.. enak say.." erangku
"Terus.. sshh.., gigit say.." erangku lagi.
Jenny
terus saja melancarkan serangan di puting susuku. Tangan yang satunya
perlahan bergerak ke arah celana dalamku sambil membelai penisku dari
luar.
"Akh.. akh.. terus sayang.."
"Buat dia kokoh say.. berikan dia belaian kasihmu.."
"Enak Dit..?"
"Eemmhh.." Gumanku
Perlahan
dia menurunkan CD yang aku pakai, kemudian perlahan namun pasti dia
mulai turun ke arah penisku yang telah tegang. Lama ia memandangi sambil
memegang penisku yang semakin menegang itu, kemudian dengan perlahan
mengalir lebih deras lagi saat kurasakan isapan demi isapan begitu
nikmatnya. Dia berusaha memasukan penisku kedalam mulutnya tanpa
canggung lagi sambil tangan yang satunya memainkan bola yang ada dibawah
penisku, tapi penis itu begitu panjang sehingga ia hanya bisa mengulum
setengahnya saja. Senjataku semakin tegang saja, tapi aku tak ingin
segera mengakhiri permainan ini, kutahan dengan sekuat tenaga agar
orgasmeku tidak datang terlalu dini.
"Yang.. digesekkan ya.. tapi jangan dimasukin.." Jenny menatap sayu mataku sambil melepaskan kulumannya.
"Kalo
gitu udah dulu deh say, bibir kamu udah pegelkan, kita istirahat dulu
deh" akhirnya kutarik tubuh pacarku kembali sejajar terlentang dengan
tubuhku.
Perlahan kubuka kedua pahanya lebar, tangan kananku
merayap menuju vagina yang mulai terbuka, kusentuh dan kucari lagi
klitoris yang menyembul dalam liang itu. Tekanan jariku dari arah depan
dan dengan perlahan kubarengi dengan gesekan senjataku yang menyentuh
belahan bibir vagina yang telah basah itu. Desahan kecil kembali
terdengar dari mulutnya, aku tahu dia begitu menikmati permainan ini,
sambil tak henti tanganku memainkan gumpalan daging yang menonjol di
dadanya.
Ntah kenapa saat itu ingin sekali aku merasakan
kelembutan himpitan kulit vagina pacarku ini, dan meledakkan spermaku di
dalamnya. Mungkin karena sudah sekian lama kami hanya bermain di luar
aja, dan ini merupakan kesempatan pertama kami melakukannya tanpa ada
gangguan takut ketahuan orang lain.
"Say.. gimana kalau kali ini aku masukin ke dalam..? .. hh" aku berbisik sambil terus menggesekkan penisku dibibir vaginanya.
"Ya.., nngg .. akkhh.. nggak tau deh.." agak ragu ia berkata
"Please.."
"Aku ingin menjaga kesucian ini sampai malam pertama kita Dit."
"Lagian aku takut hamil, apa kata orang nanti.. mmhh.. akkhh.." katanya dengan tatapan sayu.
"Ya udah deh.. nggak usah kalo kamu nggak mau." kataku menjawab, sambil terus menggesekkan penisku.
"Akh. aduh.. Dit, enak dit.." Jenny merintih
"Andai saja kita sudah menikah.." jawabku.
Aku
terus menggesek, perlahan kulihat ntah karena naluri kewanitaannya
dengan reflek ia semakin membuka lebar kedua pahanya. Kuposisikan kaki
kananku diantara kedua kakinya, sehingga kini selangkangannya terbuka
dengan lebar. Kembali kugesekan kepala penisku menyentuh belahan vagina
basah itu, tapi kali ini ntah setan mana yang mendorongku, dengan
sedikit dorongan yang mengarah keatas sehingga dengan perlahan kepala
penis itu menyeruak memasuki belahan vaginanya yang memang licin. Akh..
enak sekali rupanya.. baru kali ini penisku masuk ke vaginanya walaupun
masih sedikit. Sesaat ujung penisku berada dalam himpitan lubang yang
basah itu, lalu kutarik dan kubenamkan lagi dengan pelan, aku ingin
mempermainkan rasa nikmat pacarku ini dulu. Mendapat perlakuan seperti
itu Jenny semakin mengejang kedua tangannya kini mencengkram erat seprei
tempat tidur.
"Akkhh.. Dit.." lenguhan panjang terdengar dan dia
mencengkram semakin kuat, rupanya ia tak tahan dengan perlakuanku yang
memasukkan kepala penisku saja karena saat kudorongkan kembali pantatku,
dia menyambutnya dengan lebih menyodorkan pantatnya ke belakang
sehingga penisku amblas kedalam liang yang rapat itu. Berakhirlah
pertahanan gadis suci ini, kurasakan sesuatu yang kenyal menahan ujung
penisku, ini rupanya selaput darah seorang perawan pikirku. Lalu penis
kudorong lagi menyeruak masuk mengisi liang itu. Setelah saling diam
beberapa saat akupun mulai beraksi menyodok dan menarik penisku melalui
vagina itu. Kocokan pelan dan berirama terkadang semakin cepat dan cepat
lagi, nikmat dan rapat sekali vagina yang masih perawan ini kurasakan.
"Gimana
sayang.. lebih nikmat kan?" tanyaku. Dia menjawab perkataanku dengan
desahan yang semakin memburu. Karena tidak menjawab, akhirnya aku
pura-pura bermaksud akan mencabut kembali penisku yang sudah tenggelam
di dalam vaginanya itu.
"Akh.. jangan Ditt.." dia menahan laju mundur
pantatku dengan kedua kakinya, kemudian dia memeluk dan mencengkram
punggungku, karena sudah mendapat lampu hijau non stop, dan lagi akupun
sudah tidak sabaran karena rupanya begitu enak penis ini jika berada di
dalam vagina seorang perempuan, maka aku memulai gerakan naik turunku.
merasakan setiap sentakan dari pantatku, ia mulai paham dan ikut
menggoyangkan pantatnya seirama dengan sodokan pinggangku. Wajahnya
memerah dan bibirnnya yang seksi terbuka lebar, segera kulumat bibir
terbuka itu dengan pagutan dan iapun membalasnya dengan penuh nafsu.
" Akh..Ditt.eehhmm.."
"Kenapa sayang.. nikmat kan..?"
"..
En.. enak.." kuangkat dadaku dan kutopang dengan kedua tanganku
menambah tenaga untuk kembali menyodok vagina itu, kulihat ekpresi
pacarku ini begitu cantik dengan mata terpejam dan bibir yang terkadang
ia gigit kecil. Begitu terangsang aku dengan expresinya yang seperti
ini.
Gesekan demi gesekan semakin terasa nikmat bagi kami berdua,
sesaat kemudan kulihat wajahnya memerah, dan mendongak keatas,
kurasakan kakinya melingkar erat di kedua pahaku, aku tahu ia akan
segera mencapai klimaksnya yang kedua.
"..Tahan sayang.. sebentar lagi.."
"Aku..
aku nggak kuat Dit.. aku mau.. kelluar..". kupercepat sodokan pantatku
untuk segera mengimbangi orgasme yang dirasakannya. Kupeluk erat
tubuhnya kurasakan semburan hangat membanjir di selangkanganku dan
setelah itu akupun menyemburkan lahar panas yang kutahan dari tadi.
"Crot..crott..crett.." delapan kali kurasakan semburan maniku di vaginanya.
"Oohh..!"
lengkingan panjang keluar dari mulut kami secara bersamaan, cairan
hangat membasahi semua lubang vaginanya dan akhirnya tubuhku terjerembab
diatas tubuhnya yang terkulai lemas.
"Terima kasih sayang.. nikmat sekali" hanya itu yang bisa terucap dari mulutku saat itu..
Lama kupeluk tubuh Jenny sambil merasakan sisa kenikmatan yang baru saja kami alami,
"Maafkan
aku ya.. sayang, aku nggak bisa nepatin janji dan menjaga kesucianmu
sampai malam pertama kita" setengah merayu kubisikan kata-kata itu.
"Ya
udahlah say, mau gimana lagi, aku juga salah.. yang membiarkanmu
masuk.." sambil tersenyum simpul dan masih saling berpelukan akhirnya
kami tertidur dalam kelelahan.
Malamnya aku terbangun dan kulihat
tubuh polos Jenny tertidur begitu cantik tanpa busana sehelaipun,
cairan kental yang mulai mengering masih keluar perlahan melalui bibir
vaginanya bercampur dengan tetes darah yang mengering. Oh.. inilah darah
perawan pacarku yang telah kuambil kesuciannya.
"Maafkan aku
sayang.." kukecup keningnya dan kutinggalkan tempat tidur untuk
membersihkan sisa lendir yang melekat diselangkanganku. Baru saja aku
hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tiba-tiba Jenny
bangun dan menyusulku sambil memeluk tubuhku.
"Jahat ya.. habis ngerasakan mau ninggalin aku sendiri.."
"Nggak
pa pa sayang.. aku nggak kemana-mana kok" kembali kupeluk tubuhnya dan
kami mandi bersama. Dan didalam kamar mandipun akhirnya kami
mengulanginya.
Selesai mandi kamipun keluar untuk makan malam
setelah itu kami mengulanginya lagi, kali ini kami benar-benar
menumpahkan segalanya. Berbagai posisi kami coba, segala apa yang pernah
kami lihat di film BF kami coba praktekkan malam itu. Seakan tak pernah
puas kami bercinta